Jurnal Widyaiswara Indonesia https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi <p>Jurnal Widyaiswara Indonesia</p> en-US <p>Penulis yang menerbitkan naskahnya pada jurnal ini setuju dengan beberapa hal berikut ini:</p> <ol> <li class="show">Penulis memiliki hak cipta dan memberikan hak publikasi pertama pada jurnal ini dengan karya yang dilisensikan secara bersamaan di bawah <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">Creative Commons Attribution License</a> yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan memberikan pengakuan kepengarangan publikasi awal pada jurnal ini.</li> <li class="show">Penulis dapat mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif versi jurnal yang diterbitkan dari karya tersebut (misalnya mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan mencatumkan sumber publikasi awal pada jurnal ini.</li> <li class="show">Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting pekerjaan mereka secara online (misalnya dalam repositori institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses pengiriman naskah pada jurnal ini, karena hal itu dapat menyebabkan pertukaran yang produktif, serta kutipan yang lebih awal dan lebih besar dari karya yang diterbitkan.</li> </ol> jurnalapwi@gmail.com (Dr. Ir. Sugiarto Sumas, MT) melanidewi85@gmail.com (Melani Dewi) Thu, 22 Jan 2026 15:50:28 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Strategi Pengembangan Komitmen Profesi ASN dalam Mendukung SMART ASN di PPSDM Kemendikdasmen https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/359 <table> <tbody> <tr> <td> <table> <tbody> <tr> <td> <p>Belum optimalnya komitmen profesi dalam mendukung implementasi kebijakan SMART ASN di PPSDM Kemendikdasmen yang terindikasi dari kesenjangan Komitmen Afektif, Berkelanjutan, dan Normatif. Perlu pendalaman faktor-faktor yang dipengaruhi serta strategi terarah untuk memperkuat internalisasi komitmen profesi pegawai. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode <em>Grounded Theory</em>, penelitian ini menggali secara mendalam persepsi, pengalaman, dan dinamika komitmen ASN melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi komitmen afektif dan berkelanjutan ASN relatif kuat, ditandai dengan keterikatan emosional terhadap profesi dan kesadaran terhadap keberlanjutan karier. Namun, komitmen normatif masih lemah karena loyalitas pegawai lebih bersifat personal daripada institusional. Faktor penyebab utama meliputi terbatasnya peluang karier vertikal akibat kebijakan eselonisasi, minimnya penghargaan formal dan informal, serta ketidakseimbangan beban kerja tanpa kompensasi yang setara. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan strategi penguatan berupa transformasi komitmen normatif dari “kewajiban moral pribadi” menjadi “loyalitas berbasis nilai dan sistem organisasi” melalui institusionalisasi nilai SMART ASN, sistem penghargaan berbasis loyalitas, reaktivasi ruang keterlibatan ASN, jaminan keberlanjutan pengembangan karier, dan manajemen kompensasi moral yang adil. Penelitian ini menghasilkan model konseptual penguatan komitmen profesi ASN berbasis nilai dan sistem merit sebagai fondasi profesionalisme dan loyalitas institusional yang berkelanjutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>The professional commitment of civil servants (ASN) in supporting the implementation of the SMART ASN policy at the PPSDM Kemendikdasmen has not been optimized, as indicated by gaps in Affective, Continuance, and Normative Commitment. Therefore, an in-depth analysis of the influencing factors and targeted strategies are required to strengthen the internalization of employees' professional commitment</em><em>. Using a qualitative approach with the Grounded Theory method, this study explores in depth the perceptions, experiences, and dynamics of ASN commitment through interviews, observations, and analysis of organizational documents. The results show that the dimensions of affective and continuance commitment of ASN are relatively strong, characterized by emotional attachment to the profession and awareness of career continuity. However, normative commitment is still weak because employee loyalty is more personal than institutional. The main contributing factors include limited vertical career opportunities due to echelonization policies, a lack of formal and informal rewards, and an imbalance in workload without equivalent compensation. Based on these findings, a strengthening strategy was formulated in the form of transforming normative commitment from “personal moral obligation” to “loyalty based on organizational values and systems” through the institutionalization of SMART ASN values, a loyalty-based reward system, reactivation of ASN engagement spaces, guaranteed career development continuity, and fair moral compensation management. This research produced a conceptual model of strengthening ASN professional commitment based on values and a merit system as the foundation of sustainable professionalism and institutional loyalty. </em></p> </td> </tr> </tbody> </table> </td> </tr> </tbody> </table> Ali Sadikin Copyright (c) 2026 Jurnal Widyaiswara Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/359 Thu, 22 Jan 2026 15:49:37 +0700 Strategi Pengembangan Kompetensi Pengelola Satwa Liar Hasil Upaya Penegakan Hukum: Studi Kasus Pengelolaan Burung Kakaktua di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/385 <table> <tbody> <tr> <td> <p>Perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia masih tinggi sehingga pemerintah melakukan penyelamatan melalui penegakan hukum dan mendirikan Lembaga Konservasi Ex-Situ sebagai tempat penitipan sementara. Namun, upaya ini belum sepenuhnya berhasil karena angka kematian satwa masih tinggi. Kematian burung mencapai 90% pada 2023 dan 56% pada 2024 di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur Jakarta. Burung kakaktua, sebagai satwa dilindungi yang sering diperdagangkan secara ilegal, menjadi prioritas perlindungan. Upaya penyelamatan satwa liar memerlukan kompetensi khusus agar dapat menekan angka kematian. Kompetensi pengelola merupakan salah satu hambatan dalam pengelolaan satwa liar di instansi pemerintah. Penelitian ini menganalisis lima kompetensi yaitu kompetensi taksonomi, medis, perilaku, hukum dan logistik. Tujuan penelitian adalah menganalisis penyebab belum optimalnya kompetensi pengelola burung kakaktua, dan merumuskan strategi pengembangan kompetensi pengelola burung kakaktua. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam untuk mengidentifikasi kesenjangan kompetensi pengelola dan merumuskan strategi pengembangan kompetensi pengelola melalui analisis SOAR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&nbsp; kompetensi pengelola satwa liar belum mencapai tingkat optimal disebabkan belum adanya pelatihan taksonomi, medis, perilaku, dan logistik dan terbatasnya pelatihan hukum terbaru dan turunan, serta belum adanya desain pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Strategi mengembangkan kompetensi pengelola satwa liar dilakukan melalui magang dan <em>benchmarking</em> ke lembaga konservasi yang telah berhasil dalam pengelolaan satwa liar, koordinasi dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan guna mendesain dan menyelenggarakan program pelatihan secara berkelanjutan serta melakukan kegiatan sosialisasi, seminar, dan workshop melalui kerja sama lintas instansi.</p> <p><em>Illegal wildlife trade in Indonesia remains a high-level threat, placing responsibility on the government to conduct wildlife rescue operations through law enforcement mechanisms. One such effort involves the establishment of Ex-Situ Conservation Institutions, which function as temporary shelters for confiscated wildlife. However, these rescue initiatives have not achieved optimal outcomes, as mortality rates remain high. Data from the Tegal Alur Wildlife Rescue Center in Jakarta indicate that bird mortality reached 90% in 2023 and 56% in 2024, highlighting persistent management challenges. Cockatoos, as protected species frequently targeted in illegal trade, are a priority for conservation efforts. Effective wildlife management requires specialized competencies, yet managerial capacity within government institutions remains a critical constraint. This study examines five key competencies of wildlife managers: taxonomy, medical, behavioral, legal, and logistical. The research aims to identify the underlying causes of suboptimal competency among cockatoo managers and to formulate strategies for improvement. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews to assess competency gaps and explore practical solutions. The SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results) framework was applied to develop strategic recommendations. Findings reveal that competencies among wildlife managers remain insufficient, particularly in taxonomy, medical care, animal behavior, and logistics. In addition, legal knowledge is limited and not consistently updated, while structured and sustainable competency development programs are lacking. To address these challenges, the study recommends implementing internship and benchmarking programs with successful conservation institutions, strengthening collaboration with training centers to design continuous professional development programs, and enhancing cross-agency coordination through outreach, seminars, and workshops.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Sri Harteti, Asropi, Waldemar Hasiholan Copyright (c) 2026 Jurnal Widyaiswara Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/385 Fri, 08 May 2026 16:13:04 +0700 Pengembangan Model Pembelajaran DASPRO Learning Sebagai Solusi Mewujudkan ASN Adaptif Provinsi Papua Barat https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/398 <table> <tbody> <tr> <td> <table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai adaptif Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Papua Barat, yang tercermin dari capaian skor adaptif sebesar 39,2% dan 38,9% pada evaluasi awal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan ASN dalam aspek inisiatif, kreativitas, serta kesiapan menghadapi perubahan masih belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran inovatif yang mampu meningkatkan kompetensi adaptif secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji efektivitas model pembelajaran DASPRO Learning dalam meningkatkan nilai adaptif ASN. Jenis penelitian yang digunakan adalah <em>Research and Development</em> (R&amp;D) dengan pendekatan <em>mixed methods</em>. Pendekatan kualitatif dilakukan pada tahap studi pendahuluan untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan pada tahap uji coba model melalui pengukuran hasil belajar dan evaluasi kinerja peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model DASPRO <em>Learning</em> mampu meningkatkan capaian nilai peserta secara signifikan, dengan nilai rerata meningkat menjadi 4,0–4,6, serta 100% kelompok mencapai nilai minimal ≥ 4,0. Selain itu, terjadi peningkatan pada aspek inisiatif, kreativitas, dan kesiapan menghadapi ketidakpastian. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa DASPRO <em>Learning</em> efektif sebagai model pembelajaran inovatif dalam meningkatkan nilai adaptif ASN. Rekomendasi yang diajukan adalah perlunya integrasi model ini ke dalam kurikulum pelatihan ASN secara berkelanjutan serta dukungan kebijakan kelembagaan yang memadai.</p> <p><em>This study is motivated by the low level of adaptive competence among Civil Servants (ASN) in the Human Resource Development Agency (BPSDM) of West Papua Province, as reflected in initial adaptive scores of 39.2% and 38.9%. These findings indicate that the competencies of ASN in terms of initiative, creativity, and readiness to face change remain suboptimal. Therefore, an innovative learning model is required to systematically enhance adaptive competencies. This study aims to develop and examine the effectiveness of the DASPRO Learning model in improving the adaptive competence of ASN. The research employs a Research and Development (R&amp;D) design with a mixed methods approach. The qualitative approach was conducted during the preliminary study to identify learning needs, while the quantitative approach was applied during the model testing phase through learning outcome measurements and participant performance evaluations. The results show that the implementation of the DASPRO Learning model significantly improved participants’ performance, with average scores increasing to a range of 4.0–4.6, and 100% of groups achieving a minimum score of ≥ 4.0. Furthermore, improvements were observed in initiative, creativity, and readiness to face uncertainty. In conclusion, the DASPRO Learning model is proven to be an effective innovative learning model in enhancing the adaptive competence of ASN. It is recommended that this model be integrated into ASN training curricula on a sustainable basis, supported by appropriate institutional policies.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> </td> </tr> </tbody> </table> Andik Karyono Dwi Prasetyo , Frida Chairunisa Copyright (c) 2026 Jurnal Widyaiswara Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://www.ejournal.iwi.or.id/ojs/index.php/iwi/article/view/398 Tue, 02 Jun 2026 13:14:50 +0700